Desa Kekeran
Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung
PERAYAAN BULAN BAHASA BALI VIII TAHUN 2026 DI DESA KEKERAN
KEKERAN – Pemerintah Desa Kekeran kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian budaya melalui perayaan Bulan Bahasa Bali ke-VIII tahun 2026. Bertempat di Wantilan Kaler Desa Kekeran, kegiatan ini digelar sebagai bentuk penghormatan terhadap bahasa, aksara, dan sastra Bali yang menjadi fondasi identitas masyarakat. Acara yang berlangsung khidmat pada Sabtu (21/02) ini mengusung misi penting untuk memastikan warisan leluhur tetap relevan dan dicintai oleh seluruh lapisan masyarakat di tengah kemajuan zaman yang kian pesat.
Guna menyasar generasi paling muda, perayaan ini dibuka dengan lomba Nyurat Aksara Bali yang diikuti oleh perwakilan siswa sekolah dasar di masing-masing Banjar se-Desa Kekeran. Para peserta tampak antusias dan penuh konsentrasi saat menggoreskan alat tulis untuk membentuk deretan aksara yang estetis di atas kertas. Lomba ini bukan sekadar ajang adu ketangkasan menulis, melainkan upaya strategis desa dalam menanamkan kemahiran berbahasa ibu sejak usia dini agar anak-anak tidak kehilangan akar budayanya.
Suasana di area Wantilan Kaler semakin hidup saat memasuki sesi lomba Mesatua Bali yang diikuti oleh krama banjar dari berbagai wilayah di Desa Kekeran. Dengan gaya bahasa yang luwes dan penuh ekspresi, para peserta membawakan cerita rakyat yang telah diwariskan secara turun-temurun. Penampilan para krama ini berhasil menyedot perhatian penonton, di mana pesan-pesan moral dalam setiap satua disampaikan dengan cara yang komunikatif, seringkali dibumbui dengan selingan humor khas pedesaan yang menghibur.
Dalam sambutannya, Perbekel Kekeran I Nyoman Suarda menekankan bahwa kegiatan ini merupakan benteng pertahanan budaya di tengah gempuran arus modernisasi tahun 2026. Beliau menegaskan bahwa bahasa Bali harus tetap menjadi "nafas" dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar pelengkap upacara atau formalitas semata. Kehadiran krama banjar dalam lomba Mesatua menunjukkan bahwa tradisi lisan masih memiliki tempat yang istimewa di hati masyarakat dan harus terus dipelihara agar tidak punah ditelan waktu.
Interaksi yang terjalin antara generasi muda dan orang tua dalam satu lokasi kegiatan menciptakan harmoni budaya yang kuat di Wantilan Kaler. Sambil menunggu hasil penilaian dari tim juri, para warga terlihat bercengkerama menggunakan bahasa Bali alus, menciptakan suasana desa yang kental dengan nilai-nilai kekeluargaan. Hal ini membuktikan bahwa ruang publik seperti wantilan masih menjadi pusat edukasi kultural yang efektif bagi warga desa dalam mempererat tali persaudaraan sekaligus memperdalam pemahaman sastra.
Acara ditutup dengan pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan bagi para peserta yang telah menunjukkan dedikasi terbaik mereka. Namun, lebih dari sekadar trofi, keberhasilan sesungguhnya dari perayaan di Desa Kekeran ini adalah bangkitnya kesadaran kolektif untuk terus menggunakan dan mencintai identitas Bali. Diharapkan, semangat yang terpancar dari Wantilan Kaler ini dapat menginspirasi desa-desa lain untuk terus menghidupkan roh kebudayaan Bali secara berkelanjutan. (004/KIM/KKR)


